Ku sebut cinta adalah intensitas yang tidak abadi, termasuk pada janji - janji yang katanya harus selalu di tepati. Benar adanya yang datang akan selalu pergi, termasuk pada rasa. Katanya, takdir itu sudah di gariskan.. seperti kata pak habibie "kalau dia terlahir untuk saya, kamu bisa apa?"
Setiap garis waktu selalu memiliki masa nya, sama halnya dengan perasaan. Bagaimana caranya sesuatu bisa bertahan dengan perjuangan, katanya.
Aku ragu dengan suatu kepastian, entah mungkin belum menemukan arti dari bagaimana hidup itu berjalan beriringan. Sulit rasanya berada di tengah - tengah kecamuk gelombang yang bandang, berat memang. Seharusnya aku berada pada tumpuan dimana kata "berbagi bersama" itu meringankan. Namun, aku belum mengerti betul apa sebenarnya makna dari kalimat itu. Entah aku yang terlalu hanyut, atau memang sedang berada pada arus yang melawan.
Tuhan tau, dia merencanakan dan membuat itu menjadi intesitas yang nyata. Benar memang, pada akhirnya manusia selalu hanya bisa bergantung pada takdir yang digariskan, jadi suatu perjuangan adalah intesitas yang fana bagi segelintir orang yang belum menemukan kemana ia harus berjalan.
Semoga lekas sampai, ya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar